Peningkatan produktivitas tidak otomatis menjaga penerimaan negara apabila transisi AI mengurangi pekerjaan dan memperbesar beban perlindungan sosial.

Mantan menteri Inggris Darren Jones memperingatkan bahwa perubahan pasar kerja akibat AI dapat menekan basis pajak sekaligus menaikkan biaya kesejahteraan. Skenario itu bukan kepastian, tetapi menunjukkan mengapa kebijakan AI harus menghitung konsekuensi sosial, bukan hanya investasi dan efisiensi.

Masalahnya adalah kecepatan transisi

Ekonomi dapat menciptakan jenis pekerjaan baru setelah otomatisasi. Namun, jika peran lama hilang lebih cepat daripada pelatihan dan penciptaan kerja baru, rumah tangga menghadapi periode pendapatan yang lebih rendah. Pada skala besar, dampaknya merambat ke konsumsi dan anggaran negara.

Produktivitas baru bernilai bagi publik jika manfaatnya juga membiayai transisi pekerja.

Mengapa topik ini penting?

Perdebatan ini menggeser fokus dari “pekerjaan apa yang hilang” ke “siapa yang membayar masa transisi”. Sistem pajak yang terlalu bergantung pada upah dapat semakin rapuh ketika nilai ekonomi bergeser ke modal, model, dan infrastruktur digital.

Pelajaran bagi Indonesia

Indonesia perlu memperkuat data perubahan tugas, bukan menunggu angka pemutusan kerja. Program peningkatan keterampilan harus dekat dengan kebutuhan perusahaan dan dapat diakses pekerja informal. Pada saat yang sama, desain pajak serta perlindungan sosial perlu mengikuti sumber nilai baru agar manfaat AI tidak terkonsentrasi.