Pekerjaan AI termasuk yang tumbuh paling cepat dan bergaji tinggi. Namun akses terhadap peluang tersebut tidak terbagi rata, sehingga kesenjangan partisipasi dapat berubah menjadi kesenjangan kekuasaan.
Data LinkedIn yang dikutip The Guardian menunjukkan perempuan hanya mengisi sekitar 25 persen perekrutan baru AI dan 13 persen posisi eksekutif. Median pendapatan laki-laki di seluruh pekerjaan AI disebut lebih tinggi sekitar US$45.000.
Masalahnya ada pada jalur masuk dan bertahan
Rekrutmen melalui jaringan lama, minimnya mentor, jam kerja ekstrem, serta berkurangnya program keberagaman dapat mendorong perempuan keluar. Mereka juga lebih banyak berada dalam pekerjaan berupah rendah atau rentan otomatisasi.
Teknologi baru tidak otomatis menciptakan kesempatan baru yang setara.
Mengapa topik ini penting?
Siapa yang membangun AI ikut menentukan masalah yang dianggap penting, data yang dipilih, dan dampak yang diabaikan. Kekurangan representasi dapat memperkuat bias produk sekaligus memperlebar kesenjangan pendapatan.
Pelajaran bagi Indonesia
Perusahaan Indonesia perlu mengukur perekrutan, promosi, upah, dan retensi berdasarkan gender. Program kembali kerja, waktu belajar berbayar, mentor teknis, serta proses seleksi berbasis keterampilan dapat memperluas jalur masuk.
F1RSTID